silahkan menikmati video berikut
https://drive.google.com/file/d/0B0YI6eKI4LFTLTU2NTVidEVVZm8/view?usp=sharing
Sabtu, 08 April 2017
Sabtu, 25 Maret 2017
SM3T mengajarkanku segalanya
Jawabannya
adalah Konfrontasi
Setiap perjalanan
selalu disertai pertanyaan-pertanyaan. Kisah ini adalah tentang salah satu dari
sekian banyak pertanyaan yang hadir pada setiap perjalanan. Takdir
mengguratkan, pertanyaan yang muncul adalah dari seorang perempuan berusia
seperempat abad, anak dari seorang ibu, guru dari sebuah gudang ilmu di
pedalaman barat Kalimantan. Sayangnya, lazimnya sebuah pertanyaan, maka tidak
serta merta selalu ada jawabannya. Terkadang tidak ada jawabannya. Pun
penjelasannya. Namun waktu, tenaga, pikiran, pilihan, pengorbanan, dan
keikhlasan yang digadaikan untuk perjalanan yang ditempuh kali ini menjadi
pertaruhan nyata. Bukan tentang lamanya jarak yang ditempuh dalam sebuah
perjalanan, melainkan jawaban yang berhasil diketahui dalam sebuah perjalanan.
Bertepatan
dengan bulan ke delapan dalam sebuah perjalanan, bulan ke empat dalam kalender
nasional, enam hari sebelum tokoh nasional R.A.Kartini lahir, hari sholat
berjamaah untuk kaum adam dan hari ke lima belas dari bulan ke empat. Atmosfer
hari itu terasa penat, tidak bersahabat, dan membuat wajahnya tampak pucat.
Langit pun mengejek dan menggodanya, hingga suasana hatinya semakin runyam.
Silau matahari pagi memukul-mukul kepalanya, hingga memar pikirannya yang
berujung tidak tentu arah. Simpulannnya, hari itu adalah hari yang
menjengkelkan baginya. Mungkin ini suatu firasat dan pertanda bahwa harinya
akan mendung, gelap gulita, yang kapan saja bisa berakhir hujan badai. Akan
tetapi hari itu adalah awal ia mendapatkan petunjuk jawaban dari segala
pertanyaan-pertanyaannya yang ia bawa sebelum menginjakkan kaki di tanah
Kalimantan untuk mengemban tugas negara.
Pukul
08.35 WIB, langkahnya gontai karena rok bermodel ‘sepan’ yang ia kenakan
mengganggu jangkauan kakinya, sehingga memperlambat waktu menuju sekolah. Musik
tersetel lamat-lamat di pikirannya yang sedan tidak focus. Lagu berjudul Yesterday ala band The Beatels beraliran skiffle
menjadi latar suara langkahnya menuju sekolah. Ya, semua berawal dari ‘yesterday’ (baca: kemarin). Hari
sebelumnya yang membuat perangainya begitu aneh. Agar langkah kaki tidak
memaksanya untuk berjalan perlahan, maka rok yang ia kenakan diangkat hingga
betis untuk mempermudah langkahnya. Cara itu efektif. Ia berjalan lebih laju
daripada sebelumnya. Sebenarnya, pada hari biasa ia selalu ada kawan berjalan
menuju sekolah. Tapi hari itu adalah hari libur bagi kawan seperjalanan menuju
sekolah sekaligus kawan satu atapnya itu. Ada jadwal pergantian hari libur
untuk masing-masing guru. Terlebih kawan serumahnya bukan warga setempat. Tidak
menetap di kampung dekat sekolah. Oleh
karena itu ada hari-hari libur untuk para guru yang tempat tinggalnya berada di
kota. Kecuali baginya. Tidak ada hari libur untuknya. Pengecualian itu berlaku
karena ia adalah seorang kesatria titisan dewa yang siap mengemban tugas
apapun. Ya, ia bernama Purnama. Seorang guru yang didatangkan dari Jawa,
bertugas di pedalaman barat Kalimantan. Guru kiriman itu diberi tugas untuk
selalu standby di kampung, karena
pada suatu ketika pasti ada hari dimana tidak ada guru di sekolah. Walaupun ia
tidak memiliki hari libur, paling tidak ada hari dimana ia bisa berangkat agak
siang karena ada jam kosong. Hari itu pun ia manfaatkan untuk berangkat agak
siang. Sesampainya ia di sekolah perasaan dan pikiran kacaunya kian menjadi.
Hanya ada tiga guru yang berangkat. Ia sendiri, satu guru Agama Katholik
bernama Pak Iwan, dan satunya lagi Pak Ambro guru IPA.
“Tinggal
kita jak kah ni, Pak?” tanyanya pada guru yang ada dengan logat kampung
seadanya, yang masih bercampur medok Jawa. “Iya Bu, tinggal kita
bertiga jak. Kita akan menguasai seluruh harta dari sekolah ini,” jawab Pak
Iwan bergurau ala sinetron Indonesia sambil tertawa terbahak-bahak, diikuti
tawa susulan dari Pak Ambro. “ Pak Iwan ni ada-ada jak”, balasnya mendengar
gurauan dari rekannya itu.
Selang
tidak berapa lama, Pak Iwan mengambil palu untuk memukul lonceng, tanda
istirahat sudah selesai dan masuk ke jam kedua alias jam terakhir. Purnama pun
sudah memperkirakan waktu masuk kelas, sehingga ia tidak memutuskan untuk duduk
di kursi dan lebih memilih merapikan buku tugas yang sudah ia koreksi serta
akan ia bawa menuju kelas yang akan ia masuki.
Langkahnya
kembali gontai. Kali ini lebih gontai dari sebelum ia berangkat dari rumah.
Peluh keringat terlihat timbul di dahi dan leher, hingga kerudung yang ia
kenakan muncul bulatan-bulatan warna yang nampak lebih gelap dari warna
dasarnya akibat peluh keringatnya. Kerudungnya agak basah di beberapa bagian.
Bukan hanya karena hari itu memang cuaca sedang panas, melainkan hati dan
pikiran yang kacau menjadi penyebab utamanya.
***
Delapan
bulan sebelumnya, ia, seorang perempuan, anak dari seorang ibu, memilih dan
dipilih untuk menjadi guru dari sebuah gudang ilmu di barat Kalimantan. Purnama
namanya. Perempuan berusia seperempat abad yang memilih untuk melakukan sebuah
perjalanan untuk mendapatkan jawaban dari sebuah pertanyaan dengan bekal segala
idealisme yang ia bawa dari Tanah Jawa. Idealisme yang nyaris luluh lantah,
karena perjalanan yang ia tempuh tidak senada dengan keinginan dan harapannya.
Purnama adalah salah satu dari 29 orang guru bantu yang didatangkan dari Jawa
untuk ditempatkan di pedalaman barat Kalimantan. Ia salah satu guru bantu dari
program pemerintah yang bermerk SM3T, bertorehkan kalimat deskriptif bernada
persuasif, yaitu “Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan
Tertinggal”. Ia membayangkan kondisi dan keadaan sekolah yang akan menjadi
tempat pengabdiannya sama halnya seperti kalimat tersebut. Selain itu, ia juga
membayangkan ia akan mengabdikan dirinya di sekolah-sekolah seperti yang
dicitrakan pada tayangan-tayangan inspiratif di layar kaca. Dimana tayangan
tersebut mencitrakan segala keterbatasan yang dipikul anak-anak pedalaman.
Akses menuju sekolah yang penuh rintangan, sarana dan prasarana yang sangat
terbatas, ketidakberdayaan orang tua dalam membiayai sekolah anaknya,
kebimbangan dan pengorbanan dari seorang anak yang ingin mengenyam bangku
sekolah akan tetapi terhambat kondisi perekonomian keluarga dan harus memilih
membantu orang tua dengan bekerja di ladang. Semua itu tidak ia temui pada
sekolah tempat pengabdiannya. Walaupun letak kampung sekolah penempatannya jauh
dari kota, butuh waktu dua jam untuk menempuh lokasi melalui transportasi air
berupa kapal bermesin motor yang lazim disebut longboat. Akan tetapi selebihnya, segala keterbatasan yang ia
bayangkan tidak hadir. Jika idealisme yang dimiliki ia buang, hal tersebut
justru menjadi keuntungan. Namun, idealisme yang dibawa menginginkan
keterbatasan, karena motivasi awal adalah “melakukan perubahan sekecil apapun
di tengah keterbatasan”. Tapi segala yang sudah menjadi ketentuan-Nya harus
diterima. Tidak hanya diterima saja, bahkan harus dicintai sehingga terbentuk
‘amorfati’. Namun kenyataan tersebut tidak selamanya menjadi keuntungan,
melainkan kebuntungan. Ternyata kendala tidak hanya tentang keterbatasan,
melainkan keeksistensian. Menjadi guru tidaklah semudah yang dilihat. Harus
dapat mengatur diri sendiri sebelum mengatur orang lain, harus memerhatikan
diri sendiri agar bisa diperhatikan orang lain, harus menghargai diri sendiri
agar dihargai orang lain. Semua itu hal yang krusial dan harus dimiliki oleh
setiap pendidik untuk menjaga keksistensiannya di depan anak murid. Yang tidak
dimiliki Purnama untuk menjaga keeksistensiannya adalah ia tidak tahu dan tidak
mengerti cara untuk mengekspresikan apa yang dirasa dan dilakukan ketika
pembelajaran antara siswa dan guru berlangsung dan menemui keadaan dimana
seorang guru harus mengingatkan dengan didikan keras tanpa emosional.
Pertanyaan-pertanyaan pun memenuhi ruang pikirannya yang kosong. “Kenapa
kondisi yang aku dapatkan tidak sesuai harapan? Kenapa prinsip yang kupegang
selama ini harus luluh lantah di sini?” pertanyaan terucap dari Purnama yang
samapai bulan kedelapan di tanah rantau pun belum juga menemukan dan mengetahui
jawaban dari pertanyaan yang ia gumamkan selama delapan bulan tinggal di sebuah
tempat asing.
***
Tidak
afdol rasanya untuk tidak menceritakan awal perjalanan hidupnya menuju gudang
ilmunya, dimana ia menjadi buruh angkut ilmu yang harus ia distribusikan pada
setiap kepala anak muridnya. Satu bulan sebelum ia mendaftarkan dirinya
mengikuti program pemerintah di bawah naungan Kemenristek ini, ia baru saja
menyandang gelar sarjana di sebuah universitas negeri yang ada di kota lumpia
Semarang. Cukup terlambat memang untuk ukuran angkatan tahun masuknya menjadi
mahasiswa yang lulus dengan tepat waktu. Tapi semua itu terbayar dengan
diterimanya ia menjadi peserta SM3T. Setidaknya
tidak ada kesempatan baginya untuk menganggur. Diterimanya ia menjadi
peserta SM3T juga merupakan kebanggan tersendiri bagi ibunya. Tidak seperti
ibu-ibu pada umumnya yang tidak ingin anak perempuannya jauh darinya. Bu’eku
Wonder Woman, begitu sapaan Purnama terhadap ibunya, justru sangat mendukung ia
untuk merantau mencari pengalaman yang belum tentu ia dapatkan di tanah
kelahirannya. “Kamu harus menjadi perempuan yang maju, Nak. Perempuan yang
menorehkan kebanggaan pada keluarga dan dirimu sendiri. Semua itu tidak bisa
kamu dapatkan hanya di tanah kelahiranmu saja. Kamu harus menemukan jawaban
dari pertanyaan yang kamu miliki. Tidak semua pertanyaan dapat dijawab dengan
mudah. Oleh karena itu pergilah anakku, merantaulah. Kamu akan mengenal apa itu
saudara, apa itu perbedaan, dan apa itu rindu,” begitulah sedikit banyak petuah
dari ibunya sebelum ia harus meninggalkan semua yang ada Jawa selama kurun
waktu setahun. “Nggih Bu, Pur akan
selalu mengingat dan menerapkan pesan ibu. Nyuwun
dungone mawon, Bu. Mugi Pur diparingi
kewarasan selalu,” jawab Pur dengan bahasa santun yang selalu ia lakukan
dengan orang yang lebih tua terlebih pada orang tuanya.
Gudang
ilmu yang harus Purnama tuju adalah sebuah sekolah menengah pertama di sebuah
pedalaman barat Kalimantan, provinsi seribu sungai, yang masih termasuk dalam
zona geografis kecamatan kota, namun letaknya sangat jauh dengan kota. Tempat
tersebut bernama SMP Negeri 12 Sanggau yang terletak di Desa Penyalimau Jaya,
Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Lokasi sekolahnya berada
tidak jauh dari Sungai Kapuas, sungai terbesar di Indonesia. Rumahnya pun hanya
beberapa meter dari Sungai Kapuas. Untuk menuju ke sana, Pur harus menempuh
waktu dua jam dengan menggunakan transportasi air yang lazim disebut warga
setempat dengan istilah longboat. Sebuah
kendaraan masal berbentuk kapal panjang yang digerakkan oleh dua buah mesin
motor yang berada di ujung belakang kapal dengan seorang nahkoda berada di
bagian kemudinya dan kernet yang berada di atap kapal guna menjaga barang
bawaan penumpang yang diletakkan di atas atap kapal. Sebuah perjalanan menuju
sebuah tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Pagi
itu Purnama dijemput oleh bapak Kepala Sekolahnya di sebuah hotel menuju
dermaga pemberangkatan menuju tempat pengambdian yang jaraknya tidak jauh dari
hotel. Ia berangkat menggunakan longboat
pagi yang berangkat pukul 09.00 WIB. Dari hotel menuju ke dermaga, ia akan
diantarkan oleh seorang tukang becak yang sebelumnya sudah disewa kepala
sekolahnya. Sementara bapak Kepala Sekolahnya menaiki sepeda motor mengiri
becak yang Purnama tumpangi.
“Mbak Pur, kamu nanti naik longboat sendiri ya? Bapak belum bisa ke
kampung. Masih ada urusan yang perlu diselesaikan,” tukas Kepala Sekolahnya.
“Baik Pak, tapi nanti turunnya bagaimana, Pak. Kalau naik angkot mau turun kan
tinggal bilang berhenti sama sopirnya. Ini Pur juga tidak tahu turunnya
bagaimana,” jawab Purnama cemas karena ini pengalaman pertamanya menaiki sebuah
kapal. “Tenang saja, Bapak sudah bilang dengan nahkodanya. Masalah kamu turun
dimana dan pembayarannya sudah Bapak selesaikan,” sambil tertawa melihat raut
muka cemas Purnama.
Purnama
pun langsung menaiki longboat yang
posisinya lebih rendah dari pada seteher dermaganya. Ia sempat kesusahan untuk
masuk ke longboat. Tidak terlalu lama
duduk di dalam longboat, nahkoda sudah siap-siap menyalakan mesin kapal. “ Boy,
coba cek lagi sudah naik semua kah?” tanya nahkoda pada kernetnya. “Sudang
Bang, sudah beres semua,” balas kernet sembari melompat ke atas atap. Purnama
sungguh heran dan takjub, ia tidak menyangka akan menjalani kehidupan di pinggir Sungai Kapuas. Sungai yang akan
menjadi saksi cerita setahun lamanya di tempat asing.
***
Jarak seratus meter
semakin berkurang oleh langkah kaki Purnama menuju kelas yang akan dimasuki.
Purnama menyeka keringatnya yang semakin berkucur deras. Lagi lagi bukan karena
cuaca yang panas, melainkan karena reaksi dari kacaunya pikiran dan gelisahnya hati.
Sudah dua minggu ia memikirkan ini. Ia memikirkan bagaimana caranya marah?
Bagaimana caranya mengekspresikan perasaan dan hati yang sangat bertentangan
dengan keadaan yang paling tidak ia sukai. Dia harus marah, harus keluar dari
zona aman. Dia harus berkonfrontasi dengan anak muridnya.
“Silahkan tugas dari Bu Purnama
dikumpulkan sekarang juga!” tanpa banyak basa-basi Purnama membuka mulutnya dan
mengarahkan pandangan matanya ke setiap siswanya. “Belum Bu, tugasnya belum
jadi,” celetuk salah satu murid. Hati Purnama serasa hendak meledak. Apa yang
ia perkirakan terjadi. Sampai pertemuan ketiga pun, anak muridnya belum juga
mengumpulkan tugas yang dimintanya. Tugas untuk membuat sebuah slogan yang
dituliskan pada sebuah papan. Papan tersebut nantinya akan ia pasang di depan
tiap-tiap kelas yang ada. Kesabarannya sudah habis. Matanya melotot tajam ke
setiap anak. Melihat tatapan matanya gurunya demikian, anak muridnya pun belum
sadar bahwa Purnama hendak mengganyam mereka mentah-mentah. Hal yang nyaris tidak
pernah ia perlihatkan selama 8 bulan terakhir diajar olehnya.
“Apa? Belum dikerjakan? Coba angkat
tangan kelompok mana saja yang belum mengerjakan?” suara keras Purnama
membahana ke sampai sudut-sudut kelas. Baru memahami keadaan bahwa gurunya
sedang marah, anak murid Purnama pun mengangkat tangan dengan berat. Seperti
ada batu yang bergelayut di tangan mereka. Hampir semua kelompok belum
mengumpulkan. Hanya ada satu kelompok yang mengatakan mereka sudah berusaha
mengerjakan. Itu pun hanya bahan materialnya saja yang mereka bawa. Dalam hati
Purnama, paling tidak ada yang berkesadaran, walaupun hanya bahan materialnya
saja.
“Semua kelompok yang belum mengerjakan
silahkan maju ke depan semuanya tanpa terkecuali!” bentak Purnama dengan suara
tingginya. Tidak ada yang berani menjawab teriakan Purnama. Semua siswa yang
merupakan kelompok-kelompok yang belum mengerjakan apapun maju satu persatu
dengan kepala tertunduk. Depan meja bangku terisi penuh murid-muridnya yang
tidak mengerjakan. Karena hampir seluruh murid belum mengerjakan. Dari lima
kelompok, hanya ada satu kelompok yang masuk kategori lumayan sadar. Empat yang
lain siap-siap akan diterkam Purnama. “Rizky, kamu ketua dari kelompok satu,
coba jelaskan alasan yang kuat pada Bu Purnama, kenapa kelompok kalian tidak
mengerjakan apa yang Bu Pur minta! Jelaskan hingga ibu bisa menerima alasan
kelompok kamu harus dimaafkan!” bentak Purnama dengan mata melotot.
“Emmm…begini Bu. Sebenarnya saya sudah mengajak kelompok saya untuk
mengerjakan, tapi rumah kami jauh-jauh Bu. Jadi susah kumpulnya,” ungkap
pembelaan dari salah satu murid yang Purnama tanyai. “Sudah berapa kali ibu
bilang, karena rumah kalian berjauhan kerjakanlah di sekolah. Apa susahnya
berkumpul sepulang sekolah untuk bertahap menyusun rencana dari mulai
mengumpulkan uang untuk membeli bahan, bahan-bahan apa saja yang perlu di beli.
Apa alasan kelompok kamu bisa diterima?” teriak Purnama sejadi-jadinya.
Kelompok yang ia marahi pun hanya bisa tertunduk takut. “Kamu Oda, kenapa
kelompok kamu juga belum mengerjakan. Sampaikan alasan kelompok kamu agar ibu
bisa memahaminya,” tanya Purnama kepada kelompok lainnya, tapi karena saking
takutnya mulut salah satu murid yang ia tanya terkunci rapat. Hal tersebut
justru menambah kemarahan Purnama. “Kamu bisu kah? Ibu bertanya pada kamu
sebagai ketua kelompok dua yang harus bertanggung jawab terhadap kelompokmu!”
teriak semakin keras Purnama. “Maaf Bu, kami tidak sempat mengerjakan.
Sebenarnya kami sudah mengumpulkan uang, akan tetapi kami tidak sempat mengerjakannya,”
jawab salah satu murid yang bertugas menjadi ketua kelompok dua deng tangan
gemetar. “Tidak sempat? Tidak sempat kamu bilang? Apa waktu dua minggu itu
tidak lama? Apa waktu dua minggu itu kurang? Apa alasan yang kamu sampaikan ini
masuk akal dan bisa diterima ibu?” teriak Purnama untuk kesekian kalinya. Takut
marahnya semakin menjadi-jadi, ia menyuruh semua anaka yang disurh maju untuk
kembali ke tempat duduknya. Ia sendiri pun langsung berbalik ke mejanya
mengambil tas dan keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berpikir
anak muridnya aka nada yang mengejarnya. Namun, hingga kakinya sampai di kantor
guru tak ada yang berusaha menemuinya. Tak ada waktu lebih dari satu menit ia
berada di kantor. Gairahnya untuk mengajar sirna. Ia memutuskan untuk pulang ke
rumah. Sebelum ia pulang, ia mengirimkan sebuah pesan pada salah satu guru yang
ada di sekolah bahwa ia hendak pulang karena tidak enak badan.
Kali
ini langkahnya tidak gontai lagi, bahkan sangat laju. Ia kembali mengakat rok
sepannya, sehingga laju langkahnya semakin cepat. Walaupun ia habis marah-marah
dan itu menyita tenaganya, tapi ada sesuatu yang membuatnya justru merasa lega.
Perasaan yang selama ini mengganjal, menjadi sirna dan terasa ringan. Perasaan
dan suatu kondisi yang harusnya dari dulu ia lakukan. Jawaban dari pertanyaan
yang selama delapan bulan ini mengganjal di pikirannya. Jawabannya adalah
konfrontasi. Yang harus ia lakukan hanyalah dengan berkonfrontasi. Hal yang
menjadi prinsipnya selama 24 tahun dilahirkan. Hal yang selalu dihindarinya. Ia
melakukannya hari ini. Prinsipnya tentang zat cair, yang menempati segala
ruang. Yang selaulu mengikuti, mengimbangi, memaklumi keadaan-keadaan yang
sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya hanya demi menghindari sebuah
konfrontasi.
Sabtu
pagi, keesokkan harinya, ia penasaran apa yang akan dilakukan anak muridnya
yang sudah yang di luar perkiraannya. Sebenarnya konfrontasi yang ia lakukan
buka karena ia emosi, bukan karena ia benar-benar kehilangan kesabaran. Mungkin
ia manusia ajaib yang tidak mempunyai sakit hati. Ia hanya menyadari
bahwasannya seorang guru harus mempunyai sesuatu yang ditakuti, dihormati,
dihargai. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari ia tidak membutuhkan itu. Namun
kembali lagi, ia menyadari bahwa ia seorang guru. Ia sudah mendapatkannya,
walaupun ia belum menyadarinya.
Lima
belas menit terlambat memasuki kelas, karena Purnama harus diwawancari
teman-teman kantornya yang mengetahui informasi aksinya empo hari dari kelas
lain. Ia pun harus berdongeng sebagai penghantar guru-guru masuk kelas untuk
mengajar. “Bu, kata anak-anak kemarin ibu habis marah-marah di kelas 8A kah?”
tanya salah satu guru penasaran dengan kronoligi ceritanya. “Benar Bu,
sebenarnya saya tidak marah-marah amat. Tapi kelas itu butuh shock terapy agar lebih terkontrol,”
jawab singkat dari mulut Purnama. “Memang anak sini itu harus dibegitukan Bu.
Kalau tidak begitu, jadi banyak tingkah mereka,” mendukung aksi Purnama tempo
hari. Kemudian mengajak semua guru untuk masuk kelas untuk menutup perbincangan
yang seru, namun waktu tidak memihak Purnama dan teman-temannya.
Tepat
07.15 WIB, ia memasuki kelas 8B. kelas itu pun mendapa tugas yang sama dengan
kelas sebelah, kelas 8A. Hebatnya, kelas tersebut sangat berbanding terbalik
dengan kelas 8A. Semua kelompok sudah mengerjakan apa yang diperintahkan
Purnama. Padahal ia hanya memberikan waktu 4 hari saja, karena memang kelas itu
materinya tertinggal jauh dengan kelas 8A. Tapi ia tahu, pasti mereka takut
nasibnya akan sama dengan kelas sebelah. Dalam hati ia tertawa. “ Bagaimana
tugas yang ibu berikan? Silahkan dikumpulkan,” pinta Purnama dengan ekspresi
yang 360 derajat berbeda sekali dengan hari kemarin. “Sudah dong Bu, ayo kita
pasang sekarang Bu,” celetuk seorang murid. “Wah hebat sekali kalian, padahal
ibu baru memnyuruh kalian pada pertemuan terakhir. Ibu sangat senang dengan
kelas 8B,” puji Purnama padahal ia ingin sekali tertawa mengetahui siasat cari
aman kelas 8B.
Setelah
berbicara sebentar, Purnama langsung meminta beberapa anak untuk membantunya
memasang papan-papan slogan yang siap untuk dipasang. Dari kejauhan tampak
kelas 8A melihat rivalnya sedang memasang papan-papan slogan yang belum mereka
buat kemarin. Pemandangan yang sangat berbeda, ketika di kelas 8A terjadi
ketegangan. Sementara di kelas yang berbeda dengan tugas yang sama Purnama
terihat senang dan tertawa riang. Entah apa yang dirasakan kelas 8A.
Senin
pagi, guru kesiswaan yang merupakan wali kelas dari kelas yang bermasalah
dengan Purnama bertanya perihal kronologi kejadian pada hari Jumat kemarin.
Karena setiap hari Jumat dan Sabtu guru kesiswaan mendapat jatah libur.
“Baiklah Bu, nanti saya tindak tegas anak murid kelas 8A. Saya mendukung cara
ibu. Walaupun saya wali kelas mereka, bukan berarti saya membela anak murid saya,”
ungkap guru kesiswaan yang sekaligus guru wali kelas 8A seelah mendengar cerita
dari Purnama.
Jam
pelajaran pertama pun berakhir, Purnama bergegas masuk ke kantor. Selang tak
berapa lama ia duduk di kursinya. Tiba-tiba ada segerombolan siswa dari kelas
8A hendak menemui Purnama dengan ekspresi muka takunya. Purnama yang melihat
ekspresi mereka tidak tahan menahan tawa. Tapi ia berusaha tetap tenang
dihadapan anak-anak kelas 8A yang mulai mendekatinya. “Bu, kami mau bicara
dengan ibu,” ucap salah satu siswa laki-laki. “Lho ada apa ini? Kalian mau
mengeroyok Bu Pur?” tanya Purnama dengan sinis padahal tujuannya untuk
bercanda. “Tidak seperti itu Bu, kami ingin minta maaf. Kami sudah melakukan
kesalahan dengan tidak mengerjakan tugas yang diminta ibu. Kami sangat menyesal
elah membuat ibu marah. Maafkan kami Bu,” ungkap anak yang lainnya ikut bicara.
“Oh jadi kalian baru sadar kalian salah hari setelah Pak Arifin memarahi
kalian. Jadi perlu disuruh Pak Arifin dulu baru kalian menemui Bu Dina?” tukas
Purnama membuat anak muridnya semakin merasa bersalah. “ Bukan begitu Bu, kami
sebenarnya ingin minta maaf dari hari Sabtu, kami pun sudah menyelesaikan tugas
dari ibu, tapi kami takut menghadap ibu,” jawab salah seorang siswa yang berada
paling belakang gerombolan nayris tak terlihat karena berada paling belakang.
“Ah yasudahlah, tidak apa, kan pelajaran bahasa Indonesia juga tidak penting
jadi tidak mengerjakan tugas juga tidak masalah ya,” jawaban sinis lagi keluar
dari Purnama. “Bukan seperti itu Bu, kami mohon maafkan kami, kami janji tidak
akan mengulanginya lagi. “Coba kalian lihat kemarin, kelas 8B saja yang baru
ibu berikan tugas belum ada seminggu sudah dikerjakan semua,” Purnama mencoba membanding-bandingkan untuk
melihat ekspresi yang lebih lucu dari anak muridnya. “Mereka bah takut dimarah
sama ibu, mereka bah tahu kalau kelas kita habis dimarah ibu, jadi mereka lekas
mengerjakannya,“ jawab salah satu siswa yang tidak terima. “Iya Bu, mereka bah
ngolok kita kena marah, kena marah, gitu terus Bu,” siswa lainnya pun ikut
mengadu. “Coba ibu lihat satu persatu pekerjaan kalian. Ibu mau dimulai dari
yang papannya paling besar dan memakai bahasa Inggris,” pinta Purnama sambil
menunjuk-nunjuk slogan yang ia ingin komentari. “”Knowled is power” apa sih
artinya itu?” tanya Purnama mengetes paham apa tidak slogan yang mereka
tuliskan. “Ilmu adalah kekuatan, Bu,” jawab seorang murid. “Lalu tulisannya
sudah benar belum tuh, “knowled” atau ilmu, penulisannya sudah benarkah? Yakin
tidak ada yang kurang?” tanya Purnama untuk mengetes lagi. “Apa ya Bu?”, tanya
mereka sembari saling berpandang-pandangan tak mengerti. “Coba kamu yang di
dekat meja Bu Yulita ambil kamus, coba cari tulisan ilmu dalam bahasa Inggris.
Sudah benar belum itu?” menunjuk salah satu murid yang dekat dengan kamus
bahasa Inggris yang ada di meja salah satu gurju. Lama sekali murid-murid
mencari kata yang diminta Purnama, samapi Purnama meminta kamus itu dan
menunjukkannya apa yang salah dari tulisan yang ada di slogan mereka. “Duh cari
begitu saja, tidak bisa. Itu lihat, tulisannya bagaimana,” sambil menujuk kata
ilmu dalam kamus bahasa Inggris. “Oh iya Bu, tulisan knowledge kurang huruf G
danE Bu,” jawab seorang siswa antusias dan seluruh isi ruang kantor tertawa.
Tidak terkecuali Puranama, ia pun ikut tertawa. Ceritanya mau gaya pakai bahasa
Inggris, tapi malah salah,” ucap Purnama sambil tertawa.
Melihat gurunya
tertawa, anak-anak kelas 8A pun lega, karena tandanya ibu gurunya sudah tidak
marah lagi. “Yeee…Bu Pur tertawa. Jangan marah-marah lagi ya Bu,” celetuk
seorang murid. “Baiklah ibu maafkan, tapi jangan diulangi lagi, dari pertama
ibu masuk kelas kan ibu sudah pernah bilang jangan membuat ibu sampai marah,
karena ibu tidak suka marah-marah, kalau ibu sampai marah berarti itu saudah
sangat keterlaluan,” jelas Purnama. “Iya bu, kami tidak akan mengulanginya
lagi.
Kelas 8A pun kembali ke
kelasnya dengan hati lega dan riang karena sudah mendapat maaf dari ibu
gurunya. Purnama pun berkata dalam hati. “Inilah jawaban dari pertanyaanku.
Jawaban yang membuat hari-hari mengajarku tidak mengganjal lagi”. Mulai dari
hari itu, intuisi Purnama semakin terlatih. Jika ingin marah, maka harus marah.
Konfrontasi memang tidaklah menyenangkan, tapi lebih tidak menyenangkan lagi
jika konfrontasi harus dilakukan tapi tidak dilakukan.
-----SEKIAN-----
Langganan:
Komentar (Atom)
