Sabtu, 25 Maret 2017

SM3T mengajarkanku segalanya


Jawabannya adalah Konfrontasi

Setiap perjalanan selalu disertai pertanyaan-pertanyaan. Kisah ini adalah tentang salah satu dari sekian banyak pertanyaan yang hadir pada setiap perjalanan. Takdir mengguratkan, pertanyaan yang muncul adalah dari seorang perempuan berusia seperempat abad, anak dari seorang ibu, guru dari sebuah gudang ilmu di pedalaman barat Kalimantan. Sayangnya, lazimnya sebuah pertanyaan, maka tidak serta merta selalu ada jawabannya. Terkadang tidak ada jawabannya. Pun penjelasannya. Namun waktu, tenaga, pikiran, pilihan, pengorbanan, dan keikhlasan yang digadaikan untuk perjalanan yang ditempuh kali ini menjadi pertaruhan nyata. Bukan tentang lamanya jarak yang ditempuh dalam sebuah perjalanan, melainkan jawaban yang berhasil diketahui dalam sebuah perjalanan.
            Bertepatan dengan bulan ke delapan dalam sebuah perjalanan, bulan ke empat dalam kalender nasional, enam hari sebelum tokoh nasional R.A.Kartini lahir, hari sholat berjamaah untuk kaum adam dan hari ke lima belas dari bulan ke empat. Atmosfer hari itu terasa penat, tidak bersahabat, dan membuat wajahnya tampak pucat. Langit pun mengejek dan menggodanya, hingga suasana hatinya semakin runyam. Silau matahari pagi memukul-mukul kepalanya, hingga memar pikirannya yang berujung tidak tentu arah. Simpulannnya, hari itu adalah hari yang menjengkelkan baginya. Mungkin ini suatu firasat dan pertanda bahwa harinya akan mendung, gelap gulita, yang kapan saja bisa berakhir hujan badai. Akan tetapi hari itu adalah awal ia mendapatkan petunjuk jawaban dari segala pertanyaan-pertanyaannya yang ia bawa sebelum menginjakkan kaki di tanah Kalimantan untuk mengemban tugas negara.
            Pukul 08.35 WIB, langkahnya gontai karena rok bermodel ‘sepan’ yang ia kenakan mengganggu jangkauan kakinya, sehingga memperlambat waktu menuju sekolah. Musik tersetel lamat-lamat di pikirannya yang sedan tidak focus. Lagu berjudul Yesterday ala band The Beatels beraliran skiffle menjadi latar suara langkahnya menuju sekolah. Ya, semua berawal dari ‘yesterday’ (baca: kemarin). Hari sebelumnya yang membuat perangainya begitu aneh. Agar langkah kaki tidak memaksanya untuk berjalan perlahan, maka rok yang ia kenakan diangkat hingga betis untuk mempermudah langkahnya. Cara itu efektif. Ia berjalan lebih laju daripada sebelumnya. Sebenarnya, pada hari biasa ia selalu ada kawan berjalan menuju sekolah. Tapi hari itu adalah hari libur bagi kawan seperjalanan menuju sekolah sekaligus kawan satu atapnya itu. Ada jadwal pergantian hari libur untuk masing-masing guru. Terlebih kawan serumahnya bukan warga setempat. Tidak menetap di kampung dekat sekolah.  Oleh karena itu ada hari-hari libur untuk para guru yang tempat tinggalnya berada di kota. Kecuali baginya. Tidak ada hari libur untuknya. Pengecualian itu berlaku karena ia adalah seorang kesatria titisan dewa yang siap mengemban tugas apapun. Ya, ia bernama Purnama. Seorang guru yang didatangkan dari Jawa, bertugas di pedalaman barat Kalimantan. Guru kiriman itu diberi tugas untuk selalu standby di kampung, karena pada suatu ketika pasti ada hari dimana tidak ada guru di sekolah. Walaupun ia tidak memiliki hari libur, paling tidak ada hari dimana ia bisa berangkat agak siang karena ada jam kosong. Hari itu pun ia manfaatkan untuk berangkat agak siang. Sesampainya ia di sekolah perasaan dan pikiran kacaunya kian menjadi. Hanya ada tiga guru yang berangkat. Ia sendiri, satu guru Agama Katholik bernama Pak Iwan, dan satunya lagi Pak Ambro guru IPA.
            “Tinggal kita jak kah ni, Pak?” tanyanya pada guru yang ada dengan logat kampung seadanya,  yang masih bercampur medok Jawa. “Iya Bu, tinggal kita bertiga jak. Kita akan menguasai seluruh harta dari sekolah ini,” jawab Pak Iwan bergurau ala sinetron Indonesia sambil tertawa terbahak-bahak, diikuti tawa susulan dari Pak Ambro. “ Pak Iwan ni ada-ada jak”, balasnya mendengar gurauan dari rekannya itu.
            Selang tidak berapa lama, Pak Iwan mengambil palu untuk memukul lonceng, tanda istirahat sudah selesai dan masuk ke jam kedua alias jam terakhir. Purnama pun sudah memperkirakan waktu masuk kelas, sehingga ia tidak memutuskan untuk duduk di kursi dan lebih memilih merapikan buku tugas yang sudah ia koreksi serta akan ia bawa menuju kelas yang akan ia masuki.
            Langkahnya kembali gontai. Kali ini lebih gontai dari sebelum ia berangkat dari rumah. Peluh keringat terlihat timbul di dahi dan leher, hingga kerudung yang ia kenakan muncul bulatan-bulatan warna yang nampak lebih gelap dari warna dasarnya akibat peluh keringatnya. Kerudungnya agak basah di beberapa bagian. Bukan hanya karena hari itu memang cuaca sedang panas, melainkan hati dan pikiran yang kacau menjadi penyebab utamanya.
***
            Delapan bulan sebelumnya, ia, seorang perempuan, anak dari seorang ibu, memilih dan dipilih untuk menjadi guru dari sebuah gudang ilmu di barat Kalimantan. Purnama namanya. Perempuan berusia seperempat abad yang memilih untuk melakukan sebuah perjalanan untuk mendapatkan jawaban dari sebuah pertanyaan dengan bekal segala idealisme yang ia bawa dari Tanah Jawa. Idealisme yang nyaris luluh lantah, karena perjalanan yang ia tempuh tidak senada dengan keinginan dan harapannya. Purnama adalah salah satu dari 29 orang guru bantu yang didatangkan dari Jawa untuk ditempatkan di pedalaman barat Kalimantan. Ia salah satu guru bantu dari program pemerintah yang bermerk SM3T, bertorehkan kalimat deskriptif bernada persuasif, yaitu “Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal”. Ia membayangkan kondisi dan keadaan sekolah yang akan menjadi tempat pengabdiannya sama halnya seperti kalimat tersebut. Selain itu, ia juga membayangkan ia akan mengabdikan dirinya di sekolah-sekolah seperti yang dicitrakan pada tayangan-tayangan inspiratif di layar kaca. Dimana tayangan tersebut mencitrakan segala keterbatasan yang dipikul anak-anak pedalaman. Akses menuju sekolah yang penuh rintangan, sarana dan prasarana yang sangat terbatas, ketidakberdayaan orang tua dalam membiayai sekolah anaknya, kebimbangan dan pengorbanan dari seorang anak yang ingin mengenyam bangku sekolah akan tetapi terhambat kondisi perekonomian keluarga dan harus memilih membantu orang tua dengan bekerja di ladang. Semua itu tidak ia temui pada sekolah tempat pengabdiannya. Walaupun letak kampung sekolah penempatannya jauh dari kota, butuh waktu dua jam untuk menempuh lokasi melalui transportasi air berupa kapal bermesin motor yang lazim disebut longboat. Akan tetapi selebihnya, segala keterbatasan yang ia bayangkan tidak hadir. Jika idealisme yang dimiliki ia buang, hal tersebut justru menjadi keuntungan. Namun, idealisme yang dibawa menginginkan keterbatasan, karena motivasi awal adalah “melakukan perubahan sekecil apapun di tengah keterbatasan”. Tapi segala yang sudah menjadi ketentuan-Nya harus diterima. Tidak hanya diterima saja, bahkan harus dicintai sehingga terbentuk ‘amorfati’. Namun kenyataan tersebut tidak selamanya menjadi keuntungan, melainkan kebuntungan. Ternyata kendala tidak hanya tentang keterbatasan, melainkan keeksistensian. Menjadi guru tidaklah semudah yang dilihat. Harus dapat mengatur diri sendiri sebelum mengatur orang lain, harus memerhatikan diri sendiri agar bisa diperhatikan orang lain, harus menghargai diri sendiri agar dihargai orang lain. Semua itu hal yang krusial dan harus dimiliki oleh setiap pendidik untuk menjaga keksistensiannya di depan anak murid. Yang tidak dimiliki Purnama untuk menjaga keeksistensiannya adalah ia tidak tahu dan tidak mengerti cara untuk mengekspresikan apa yang dirasa dan dilakukan ketika pembelajaran antara siswa dan guru berlangsung dan menemui keadaan dimana seorang guru harus mengingatkan dengan didikan keras tanpa emosional. Pertanyaan-pertanyaan pun memenuhi ruang pikirannya yang kosong. “Kenapa kondisi yang aku dapatkan tidak sesuai harapan? Kenapa prinsip yang kupegang selama ini harus luluh lantah di sini?” pertanyaan terucap dari Purnama yang samapai bulan kedelapan di tanah rantau pun belum juga menemukan dan mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ia gumamkan selama delapan bulan tinggal di sebuah tempat asing.
***
            Tidak afdol rasanya untuk tidak menceritakan awal perjalanan hidupnya menuju gudang ilmunya, dimana ia menjadi buruh angkut ilmu yang harus ia distribusikan pada setiap kepala anak muridnya. Satu bulan sebelum ia mendaftarkan dirinya mengikuti program pemerintah di bawah naungan Kemenristek ini, ia baru saja menyandang gelar sarjana di sebuah universitas negeri yang ada di kota lumpia Semarang. Cukup terlambat memang untuk ukuran angkatan tahun masuknya menjadi mahasiswa yang lulus dengan tepat waktu. Tapi semua itu terbayar dengan diterimanya ia menjadi peserta SM3T. Setidaknya  tidak ada kesempatan baginya untuk menganggur. Diterimanya ia menjadi peserta SM3T juga merupakan kebanggan tersendiri bagi ibunya. Tidak seperti ibu-ibu pada umumnya yang tidak ingin anak perempuannya jauh darinya. Bu’eku Wonder Woman, begitu sapaan Purnama terhadap ibunya, justru sangat mendukung ia untuk merantau mencari pengalaman yang belum tentu ia dapatkan di tanah kelahirannya. “Kamu harus menjadi perempuan yang maju, Nak. Perempuan yang menorehkan kebanggaan pada keluarga dan dirimu sendiri. Semua itu tidak bisa kamu dapatkan hanya di tanah kelahiranmu saja. Kamu harus menemukan jawaban dari pertanyaan yang kamu miliki. Tidak semua pertanyaan dapat dijawab dengan mudah. Oleh karena itu pergilah anakku, merantaulah. Kamu akan mengenal apa itu saudara, apa itu perbedaan, dan apa itu rindu,” begitulah sedikit banyak petuah dari ibunya sebelum ia harus meninggalkan semua yang ada Jawa selama kurun waktu setahun. “Nggih Bu, Pur akan selalu mengingat dan menerapkan pesan ibu. Nyuwun dungone mawon, Bu. Mugi Pur diparingi kewarasan selalu,” jawab Pur dengan bahasa santun yang selalu ia lakukan dengan orang yang lebih tua terlebih pada orang tuanya.
            Gudang ilmu yang harus Purnama tuju adalah sebuah sekolah menengah pertama di sebuah pedalaman barat Kalimantan, provinsi seribu sungai, yang masih termasuk dalam zona geografis kecamatan kota, namun letaknya sangat jauh dengan kota. Tempat tersebut bernama SMP Negeri 12 Sanggau yang terletak di Desa Penyalimau Jaya, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Lokasi sekolahnya berada tidak jauh dari Sungai Kapuas, sungai terbesar di Indonesia. Rumahnya pun hanya beberapa meter dari Sungai Kapuas. Untuk menuju ke sana, Pur harus menempuh waktu dua jam dengan menggunakan transportasi air yang lazim disebut warga setempat dengan istilah longboat. Sebuah kendaraan masal berbentuk kapal panjang yang digerakkan oleh dua buah mesin motor yang berada di ujung belakang kapal dengan seorang nahkoda berada di bagian kemudinya dan kernet yang berada di atap kapal guna menjaga barang bawaan penumpang yang diletakkan di atas atap kapal. Sebuah perjalanan menuju sebuah tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
            Pagi itu Purnama dijemput oleh bapak Kepala Sekolahnya di sebuah hotel menuju dermaga pemberangkatan menuju tempat pengambdian yang jaraknya tidak jauh dari hotel. Ia berangkat menggunakan longboat pagi yang berangkat pukul 09.00 WIB. Dari hotel menuju ke dermaga, ia akan diantarkan oleh seorang tukang becak yang sebelumnya sudah disewa kepala sekolahnya. Sementara bapak Kepala Sekolahnya menaiki sepeda motor mengiri becak yang Purnama tumpangi.
“Mbak Pur, kamu nanti naik longboat sendiri ya? Bapak belum bisa ke kampung. Masih ada urusan yang perlu diselesaikan,” tukas Kepala Sekolahnya. “Baik Pak, tapi nanti turunnya bagaimana, Pak. Kalau naik angkot mau turun kan tinggal bilang berhenti sama sopirnya. Ini Pur juga tidak tahu turunnya bagaimana,” jawab Purnama cemas karena ini pengalaman pertamanya menaiki sebuah kapal. “Tenang saja, Bapak sudah bilang dengan nahkodanya. Masalah kamu turun dimana dan pembayarannya sudah Bapak selesaikan,” sambil tertawa melihat raut muka cemas Purnama.
            Purnama pun langsung menaiki longboat yang posisinya lebih rendah dari pada seteher dermaganya. Ia sempat kesusahan untuk masuk ke longboat. Tidak terlalu lama duduk di dalam longboat, nahkoda sudah siap-siap menyalakan mesin kapal. “ Boy, coba cek lagi sudah naik semua kah?” tanya nahkoda pada kernetnya. “Sudang Bang, sudah beres semua,” balas kernet sembari melompat ke atas atap. Purnama sungguh heran dan takjub, ia tidak menyangka akan menjalani kehidupan di  pinggir Sungai Kapuas. Sungai yang akan menjadi saksi cerita setahun lamanya di tempat asing.
***
Jarak seratus meter semakin berkurang oleh langkah kaki Purnama menuju kelas yang akan dimasuki. Purnama menyeka keringatnya yang semakin berkucur deras. Lagi lagi bukan karena cuaca yang panas, melainkan karena reaksi dari kacaunya pikiran dan gelisahnya hati. Sudah dua minggu ia memikirkan ini. Ia memikirkan bagaimana caranya marah? Bagaimana caranya mengekspresikan perasaan dan hati yang sangat bertentangan dengan keadaan yang paling tidak ia sukai. Dia harus marah, harus keluar dari zona aman. Dia harus berkonfrontasi dengan anak muridnya.
“Silahkan tugas dari Bu Purnama dikumpulkan sekarang juga!” tanpa banyak basa-basi Purnama membuka mulutnya dan mengarahkan pandangan matanya ke setiap siswanya. “Belum Bu, tugasnya belum jadi,” celetuk salah satu murid. Hati Purnama serasa hendak meledak. Apa yang ia perkirakan terjadi. Sampai pertemuan ketiga pun, anak muridnya belum juga mengumpulkan tugas yang dimintanya. Tugas untuk membuat sebuah slogan yang dituliskan pada sebuah papan. Papan tersebut nantinya akan ia pasang di depan tiap-tiap kelas yang ada. Kesabarannya sudah habis. Matanya melotot tajam ke setiap anak. Melihat tatapan matanya gurunya demikian, anak muridnya pun belum sadar bahwa Purnama hendak mengganyam mereka mentah-mentah. Hal yang nyaris tidak pernah ia perlihatkan selama 8 bulan terakhir diajar olehnya.
“Apa? Belum dikerjakan? Coba angkat tangan kelompok mana saja yang belum mengerjakan?” suara keras Purnama membahana ke sampai sudut-sudut kelas. Baru memahami keadaan bahwa gurunya sedang marah, anak murid Purnama pun mengangkat tangan dengan berat. Seperti ada batu yang bergelayut di tangan mereka. Hampir semua kelompok belum mengumpulkan. Hanya ada satu kelompok yang mengatakan mereka sudah berusaha mengerjakan. Itu pun hanya bahan materialnya saja yang mereka bawa. Dalam hati Purnama, paling tidak ada yang berkesadaran, walaupun hanya bahan materialnya saja.
“Semua kelompok yang belum mengerjakan silahkan maju ke depan semuanya tanpa terkecuali!” bentak Purnama dengan suara tingginya. Tidak ada yang berani menjawab teriakan Purnama. Semua siswa yang merupakan kelompok-kelompok yang belum mengerjakan apapun maju satu persatu dengan kepala tertunduk. Depan meja bangku terisi penuh murid-muridnya yang tidak mengerjakan. Karena hampir seluruh murid belum mengerjakan. Dari lima kelompok, hanya ada satu kelompok yang masuk kategori lumayan sadar. Empat yang lain siap-siap akan diterkam Purnama. “Rizky, kamu ketua dari kelompok satu, coba jelaskan alasan yang kuat pada Bu Purnama, kenapa kelompok kalian tidak mengerjakan apa yang Bu Pur minta! Jelaskan hingga ibu bisa menerima alasan kelompok kamu harus dimaafkan!” bentak Purnama dengan mata melotot. “Emmm…begini Bu. Sebenarnya saya sudah mengajak kelompok saya untuk mengerjakan, tapi rumah kami jauh-jauh Bu. Jadi susah kumpulnya,” ungkap pembelaan dari salah satu murid yang Purnama tanyai. “Sudah berapa kali ibu bilang, karena rumah kalian berjauhan kerjakanlah di sekolah. Apa susahnya berkumpul sepulang sekolah untuk bertahap menyusun rencana dari mulai mengumpulkan uang untuk membeli bahan, bahan-bahan apa saja yang perlu di beli. Apa alasan kelompok kamu bisa diterima?” teriak Purnama sejadi-jadinya. Kelompok yang ia marahi pun hanya bisa tertunduk takut. “Kamu Oda, kenapa kelompok kamu juga belum mengerjakan. Sampaikan alasan kelompok kamu agar ibu bisa memahaminya,” tanya Purnama kepada kelompok lainnya, tapi karena saking takutnya mulut salah satu murid yang ia tanya terkunci rapat. Hal tersebut justru menambah kemarahan Purnama. “Kamu bisu kah? Ibu bertanya pada kamu sebagai ketua kelompok dua yang harus bertanggung jawab terhadap kelompokmu!” teriak semakin keras Purnama. “Maaf Bu, kami tidak sempat mengerjakan. Sebenarnya kami sudah mengumpulkan uang, akan tetapi kami tidak sempat mengerjakannya,” jawab salah satu murid yang bertugas menjadi ketua kelompok dua deng tangan gemetar. “Tidak sempat? Tidak sempat kamu bilang? Apa waktu dua minggu itu tidak lama? Apa waktu dua minggu itu kurang? Apa alasan yang kamu sampaikan ini masuk akal dan bisa diterima ibu?” teriak Purnama untuk kesekian kalinya. Takut marahnya semakin menjadi-jadi, ia menyuruh semua anaka yang disurh maju untuk kembali ke tempat duduknya. Ia sendiri pun langsung berbalik ke mejanya mengambil tas dan keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berpikir anak muridnya aka nada yang mengejarnya. Namun, hingga kakinya sampai di kantor guru tak ada yang berusaha menemuinya. Tak ada waktu lebih dari satu menit ia berada di kantor. Gairahnya untuk mengajar sirna. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebelum ia pulang, ia mengirimkan sebuah pesan pada salah satu guru yang ada di sekolah bahwa ia hendak pulang karena tidak enak badan.
            Kali ini langkahnya tidak gontai lagi, bahkan sangat laju. Ia kembali mengakat rok sepannya, sehingga laju langkahnya semakin cepat. Walaupun ia habis marah-marah dan itu menyita tenaganya, tapi ada sesuatu yang membuatnya justru merasa lega. Perasaan yang selama ini mengganjal, menjadi sirna dan terasa ringan. Perasaan dan suatu kondisi yang harusnya dari dulu ia lakukan. Jawaban dari pertanyaan yang selama delapan bulan ini mengganjal di pikirannya. Jawabannya adalah konfrontasi. Yang harus ia lakukan hanyalah dengan berkonfrontasi. Hal yang menjadi prinsipnya selama 24 tahun dilahirkan. Hal yang selalu dihindarinya. Ia melakukannya hari ini. Prinsipnya tentang zat cair, yang menempati segala ruang. Yang selaulu mengikuti, mengimbangi, memaklumi keadaan-keadaan yang sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya hanya demi menghindari sebuah konfrontasi.
            Sabtu pagi, keesokkan harinya, ia penasaran apa yang akan dilakukan anak muridnya yang sudah yang di luar perkiraannya. Sebenarnya konfrontasi yang ia lakukan buka karena ia emosi, bukan karena ia benar-benar kehilangan kesabaran. Mungkin ia manusia ajaib yang tidak mempunyai sakit hati. Ia hanya menyadari bahwasannya seorang guru harus mempunyai sesuatu yang ditakuti, dihormati, dihargai. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari ia tidak membutuhkan itu. Namun kembali lagi, ia menyadari bahwa ia seorang guru. Ia sudah mendapatkannya, walaupun ia belum menyadarinya.
            Lima belas menit terlambat memasuki kelas, karena Purnama harus diwawancari teman-teman kantornya yang mengetahui informasi aksinya empo hari dari kelas lain. Ia pun harus berdongeng sebagai penghantar guru-guru masuk kelas untuk mengajar. “Bu, kata anak-anak kemarin ibu habis marah-marah di kelas 8A kah?” tanya salah satu guru penasaran dengan kronoligi ceritanya. “Benar Bu, sebenarnya saya tidak marah-marah amat. Tapi kelas itu butuh shock terapy agar lebih terkontrol,” jawab singkat dari mulut Purnama. “Memang anak sini itu harus dibegitukan Bu. Kalau tidak begitu, jadi banyak tingkah mereka,” mendukung aksi Purnama tempo hari. Kemudian mengajak semua guru untuk masuk kelas untuk menutup perbincangan yang seru, namun waktu tidak memihak Purnama dan teman-temannya.
            Tepat 07.15 WIB, ia memasuki kelas 8B. kelas itu pun mendapa tugas yang sama dengan kelas sebelah, kelas 8A. Hebatnya, kelas tersebut sangat berbanding terbalik dengan kelas 8A. Semua kelompok sudah mengerjakan apa yang diperintahkan Purnama. Padahal ia hanya memberikan waktu 4 hari saja, karena memang kelas itu materinya tertinggal jauh dengan kelas 8A. Tapi ia tahu, pasti mereka takut nasibnya akan sama dengan kelas sebelah. Dalam hati ia tertawa. “ Bagaimana tugas yang ibu berikan? Silahkan dikumpulkan,” pinta Purnama dengan ekspresi yang 360 derajat berbeda sekali dengan hari kemarin. “Sudah dong Bu, ayo kita pasang sekarang Bu,” celetuk seorang murid. “Wah hebat sekali kalian, padahal ibu baru memnyuruh kalian pada pertemuan terakhir. Ibu sangat senang dengan kelas 8B,” puji Purnama padahal ia ingin sekali tertawa mengetahui siasat cari aman kelas 8B.
            Setelah berbicara sebentar, Purnama langsung meminta beberapa anak untuk membantunya memasang papan-papan slogan yang siap untuk dipasang. Dari kejauhan tampak kelas 8A melihat rivalnya sedang memasang papan-papan slogan yang belum mereka buat kemarin. Pemandangan yang sangat berbeda, ketika di kelas 8A terjadi ketegangan. Sementara di kelas yang berbeda dengan tugas yang sama Purnama terihat senang dan tertawa riang. Entah apa yang dirasakan kelas 8A.
            Senin pagi, guru kesiswaan yang merupakan wali kelas dari kelas yang bermasalah dengan Purnama bertanya perihal kronologi kejadian pada hari Jumat kemarin. Karena setiap hari Jumat dan Sabtu guru kesiswaan mendapat jatah libur. “Baiklah Bu, nanti saya tindak tegas anak murid kelas 8A. Saya mendukung cara ibu. Walaupun saya wali kelas mereka, bukan berarti saya membela anak murid saya,” ungkap guru kesiswaan yang sekaligus guru wali kelas 8A seelah mendengar cerita dari Purnama.
            Jam pelajaran pertama pun berakhir, Purnama bergegas masuk ke kantor. Selang tak berapa lama ia duduk di kursinya. Tiba-tiba ada segerombolan siswa dari kelas 8A hendak menemui Purnama dengan ekspresi muka takunya. Purnama yang melihat ekspresi mereka tidak tahan menahan tawa. Tapi ia berusaha tetap tenang dihadapan anak-anak kelas 8A yang mulai mendekatinya. “Bu, kami mau bicara dengan ibu,” ucap salah satu siswa laki-laki. “Lho ada apa ini? Kalian mau mengeroyok Bu Pur?” tanya Purnama dengan sinis padahal tujuannya untuk bercanda. “Tidak seperti itu Bu, kami ingin minta maaf. Kami sudah melakukan kesalahan dengan tidak mengerjakan tugas yang diminta ibu. Kami sangat menyesal elah membuat ibu marah. Maafkan kami Bu,” ungkap anak yang lainnya ikut bicara. “Oh jadi kalian baru sadar kalian salah hari setelah Pak Arifin memarahi kalian. Jadi perlu disuruh Pak Arifin dulu baru kalian menemui Bu Dina?” tukas Purnama membuat anak muridnya semakin merasa bersalah. “ Bukan begitu Bu, kami sebenarnya ingin minta maaf dari hari Sabtu, kami pun sudah menyelesaikan tugas dari ibu, tapi kami takut menghadap ibu,” jawab salah seorang siswa yang berada paling belakang gerombolan nayris tak terlihat karena berada paling belakang. “Ah yasudahlah, tidak apa, kan pelajaran bahasa Indonesia juga tidak penting jadi tidak mengerjakan tugas juga tidak masalah ya,” jawaban sinis lagi keluar dari Purnama. “Bukan seperti itu Bu, kami mohon maafkan kami, kami janji tidak akan mengulanginya lagi. “Coba kalian lihat kemarin, kelas 8B saja yang baru ibu berikan tugas belum ada seminggu sudah dikerjakan semua,”  Purnama mencoba membanding-bandingkan untuk melihat ekspresi yang lebih lucu dari anak muridnya. “Mereka bah takut dimarah sama ibu, mereka bah tahu kalau kelas kita habis dimarah ibu, jadi mereka lekas mengerjakannya,“ jawab salah satu siswa yang tidak terima. “Iya Bu, mereka bah ngolok kita kena marah, kena marah, gitu terus Bu,” siswa lainnya pun ikut mengadu. “Coba ibu lihat satu persatu pekerjaan kalian. Ibu mau dimulai dari yang papannya paling besar dan memakai bahasa Inggris,” pinta Purnama sambil menunjuk-nunjuk slogan yang ia ingin komentari. “”Knowled is power” apa sih artinya itu?” tanya Purnama mengetes paham apa tidak slogan yang mereka tuliskan. “Ilmu adalah kekuatan, Bu,” jawab seorang murid. “Lalu tulisannya sudah benar belum tuh, “knowled” atau ilmu, penulisannya sudah benarkah? Yakin tidak ada yang kurang?” tanya Purnama untuk mengetes lagi. “Apa ya Bu?”, tanya mereka sembari saling berpandang-pandangan tak mengerti. “Coba kamu yang di dekat meja Bu Yulita ambil kamus, coba cari tulisan ilmu dalam bahasa Inggris. Sudah benar belum itu?” menunjuk salah satu murid yang dekat dengan kamus bahasa Inggris yang ada di meja salah satu gurju. Lama sekali murid-murid mencari kata yang diminta Purnama, samapi Purnama meminta kamus itu dan menunjukkannya apa yang salah dari tulisan yang ada di slogan mereka. “Duh cari begitu saja, tidak bisa. Itu lihat, tulisannya bagaimana,” sambil menujuk kata ilmu dalam kamus bahasa Inggris. “Oh iya Bu, tulisan knowledge kurang huruf G danE Bu,” jawab seorang siswa antusias dan seluruh isi ruang kantor tertawa. Tidak terkecuali Puranama, ia pun ikut tertawa. Ceritanya mau gaya pakai bahasa Inggris, tapi malah salah,” ucap Purnama sambil tertawa.
Melihat gurunya tertawa, anak-anak kelas 8A pun lega, karena tandanya ibu gurunya sudah tidak marah lagi. “Yeee…Bu Pur tertawa. Jangan marah-marah lagi ya Bu,” celetuk seorang murid. “Baiklah ibu maafkan, tapi jangan diulangi lagi, dari pertama ibu masuk kelas kan ibu sudah pernah bilang jangan membuat ibu sampai marah, karena ibu tidak suka marah-marah, kalau ibu sampai marah berarti itu saudah sangat keterlaluan,” jelas Purnama. “Iya bu, kami tidak akan mengulanginya lagi.
Kelas 8A pun kembali ke kelasnya dengan hati lega dan riang karena sudah mendapat maaf dari ibu gurunya. Purnama pun berkata dalam hati. “Inilah jawaban dari pertanyaanku. Jawaban yang membuat hari-hari mengajarku tidak mengganjal lagi”. Mulai dari hari itu, intuisi Purnama semakin terlatih. Jika ingin marah, maka harus marah. Konfrontasi memang tidaklah menyenangkan, tapi lebih tidak menyenangkan lagi jika konfrontasi harus dilakukan tapi tidak dilakukan.
-----SEKIAN-----